Menurut psikolog Anna Surti Arianti, dampak kemarahan tergantung pada hubungan anak dan orang tua sebelumnya. Bila hubungannya baik maka kemarahan tidak berdampak berat. Namun jika hubungannya buruk anak bisa saja mengalami trauma.
"Untuk dampak ringan, mungkin anak merasa kesal dan marah. Sedangkan jika trauma anak bisa saja takut menghadapi orangtua, atau timbul perasaan negatif lainnya. Namun untuk sampai trauma biasa jauh ya, mungkin kesal dulu," kata psikolog yang kerap disapa Nina ini kepada detikHealth.
Terlepas dari dampak kemarahan orang tua pada anak, Nina mengingatkan pentingnya membuat kesepakatan antar kedua belah pihak. Hal ini untuk mencegah kejadian serupa kembali terulang, yang dalam kasus viral tersebut adalah anak yang menolak les.
Kesepatan berisi konsekuensi yang harus ditaati orang tua dan anak. Tentunya kesepakatan tidak boleh berat sebelah dan harus bermanfaat bagi orang tua serta anak.